PALU PSNews.site – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah terus mendorong percepatan digitalisasi ekonomi daerah dengan memperluas penggunaan sistem pembayaran digital, khususnya QRIS, di berbagai sektor usaha dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, saat ditemui usai kegiatan Posalia Sulteng Digifest, Selasa (11/8/2026).
Irfan mengatakan, digitalisasi pembayaran perlu diperluas agar semakin banyak pelaku usaha, khususnya UMKM, dapat terhubung dengan ekosistem ekonomi digital sekaligus memperluas akses pasar.
“Digitalisasi kita ingin semakin meluas.
Tadi ada launching QRIS dan beberapa tenant sudah menggunakan QRIS. Begitu pula nanti di pasar,” ujar Irfan.
Menurutnya, BI Sulteng juga tengah menyiapkan perluasan penggunaan QRIS di sejumlah kawasan ekonomi.
Salah satunya akan dilakukan pada 14 Agustus 2026 melalui kegiatan di kawasan pasar serta sejumlah titik ekonomi lainnya di Sulawesi Tengah.
Langkah tersebut, kata Irfan, menjadi bagian dari upaya BI untuk tetap mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika kondisi ekonomi saat ini.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi Sulteng tidak hanya dapat bertumpu pada sektor industri pengolahan, tetapi juga perlu diperkuat melalui sektor ekonomi lainnya yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Lewat UMKM, kita perluas akses pasar, kita perluas digitalisasi dan berbagai macam hal, supaya antara sektor riil dengan sistem pembayaran digital semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sulteng,” jelasnya.
Dorong Ekonomi Digital yang Berkelanjutan
Dalam kegiatan tersebut, isu pengembangan ekonomi digital juga menjadi salah satu perhatian.
BI menghadirkan narasumber dari lembaga internasional untuk membahas bagaimana pengembangan ekonomi digital dapat berjalan beriringan dengan konsep ekonomi hijau (green economy).
Irfan menjelaskan, pengembangan ekonomi hijau penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya mengejar peningkatan aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga mampu bertahan dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.
“Dari sisi green, bagaimana menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan karena lebih sustainable,” katanya.
Ia menambahkan, pelaku usaha lokal juga perlu didorong agar tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi secara bertahap dapat meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pemasaran hingga ke luar daerah bahkan mancanegara.
Transaksi Bisnis Matching Tembus Rp3 Miliar
Di sisi pembiayaan, BI Sulteng juga terus memperkuat akses UMKM terhadap sumber pembiayaan melalui kegiatan business matching dengan perbankan maupun lembaga keuangan nonbank.
Irfan menyebut, transaksi yang berhasil difasilitasi dalam rangkaian kegiatan tersebut telah mencapai sekitar Rp3 miliar lebih.
“Sekitar lebih dari Rp3 miliar.
Sebelumnya kita sudah lewat business matching ketika di Luwuk dengan perbankan, ada sekitar Rp1 miliar. Jadi kurang lebih sudah Rp3 miliar dan lebih,” ungkapnya.
Menurut Irfan, business matching menjadi salah satu strategi untuk mendorong UMKM naik kelas. Tidak hanya dari sisi pemasaran, tetapi juga melalui penguatan kelembagaan dan akses pembiayaan.
“Kita ingin ada korporatisasi, kemudian digitalisasi dan efisiensi biaya.
Kita coba melalui business matching untuk memfasilitasi dengan perbankan, nanti juga dengan lembaga nonbank, sehingga UMKM bisa menembus akses keuangan,” jelasnya.
Pelaku usaha yang terlibat pun cukup beragam, mulai dari sektor makanan dan minuman, fesyen, hingga komoditas kopi.
PQR dan Digifest Digabung, Bangun Ekosistem Ekonomi Digital
Lebih lanjut, Irfan mengatakan terdapat perbedaan dalam pelaksanaan kegiatan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.
BI Sulteng mengintegrasikan sejumlah agenda yang sebelumnya dilaksanakan secara terpisah ke dalam satu rangkaian kegiatan.
Menurutnya, penggabungan tersebut dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang lebih kuat antara sektor riil, UMKM, dan sistem pembayaran digital.
“Kita menggabungkan antara PQR dengan acara ini supaya ekosistem lebih jalan antara sektor riil dengan sistem pembayaran digital,” pungkasnya.
BI Sulteng berharap penguatan digitalisasi pembayaran, perluasan akses pasar, serta fasilitasi pembiayaan dapat semakin mendorong UMKM menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang inklusif dan berkelanjutan.
Liputan : Rudy
Tidak ada komentar