MENU Sabtu, 08 Agu 2026

Kawendra Lukistian: Ekonomi Kreatif Adalah Masa Depan Indonesia, GEKRAFS Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Global

waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Jul 2026 17:06 128 Admin 1

PALU PSNews.site – Ketua Umum DPP Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS), Kawendra Lukistian, menegaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor penting yang akan menjadi masa depan perekonomian Indonesia.

 

Menurut Kawendra, perjuangan GEKRAFS dalam mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif selama bertahun-tahun mulai menunjukkan hasil melalui lahirnya berbagai kebijakan dan dukungan yang semakin memperkuat keberadaan para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.

 

Ia mengatakan, penguatan sektor ekonomi kreatif membutuhkan sedikitnya empat agenda utama, yakni peningkatan literasi ekonomi kreatif, mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru, memperluas lapangan kerja, serta menjaga dan melestarikan produk kreatif, seni, dan kebudayaan.

 

“Literasi ekonomi kreatif harus kita tingkatkan. Banyak pelaku usaha kuliner, seni, musik dan sektor lainnya yang belum mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari ekonomi kreatif.

 

Ini menjadi tugas kita untuk memberikan pemahaman dan membuka akses pengembangan usaha,” kata Kawendra.

 

Ia menilai, pemahaman mengenai ekonomi kreatif di tingkat akar rumput masih perlu diperkuat.

 

Banyak pelaku usaha yang sebenarnya telah menghasilkan produk maupun karya kreatif, tetapi belum menyadari bahwa aktivitas mereka merupakan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif nasional.

 

Selain literasi, Kawendra juga menekankan pentingnya memberikan penghargaan dan perlindungan yang layak kepada para pekerja kreatif. Hal tersebut mencakup musisi, pekerja seni, kreator digital, hingga berbagai profesi kreatif lainnya.

 

Menurutnya, kreativitas dan karya tidak boleh dipandang sebelah mata. Sektor ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

GEKRAFS Dorong Delapan Agenda Strategis

Dalam kesempatan tersebut, Kawendra memaparkan delapan program strategis GEKRAFS yang dikemas dalam Asta Karya.

 

Delapan agenda tersebut meliputi penguatan pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif, perlindungan kekayaan intelektual, diplomasi gastronomi, penguatan kolaborasi, peningkatan apresiasi terhadap pekerja kreatif, literasi dan pemasaran digital, penguatan jejaring ekonomi kreatif regional, serta pengembangan jaringan internasional.

 

Menurut Kawendra, berbagai program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan pelaku ekonomi kreatif, mulai dari akses pembiayaan, perlindungan karya, pemasaran, penguatan jejaring, hingga membuka peluang ekspansi ke pasar internasional.

 

GEKRAFS, lanjutnya, juga terus memperluas jaringan hingga ke mancanegara. Sejumlah perwakilan GEKRAFS telah hadir di berbagai negara dan jaringan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi kreatif di daerah untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk kreatif Indonesia ke pasar global.

 

“Kalau ada produk terbaik dari Sulawesi Tengah, manfaatkan jaringan tersebut. Jangan hanya berpikir pasar lokal, tetapi bagaimana produk-produk kreatif kita bisa menembus pasar nasional dan internasional,” tegasnya.

 

GEKRAFS Daerah Harus Beri Manfaat Nyata

 

Kawendra juga mengingatkan seluruh kepengurusan GEKRAFS di daerah agar tidak hanya berorientasi pada keberadaan organisasi secara formal.

 

Menurutnya, GEKRAFS harus menjadi wadah yang mampu memberikan manfaat nyata, membuka akses, membangun kolaborasi, serta membantu pelaku ekonomi kreatif mengembangkan usaha dan karya mereka.

 

“GEKRAFS jangan dijadikan gerbong untuk gaya-gayaan, tetapi menjadi gerbong untuk memberikan kebermanfaatan,” ujarnya.

 

Ia berharap keberadaan GEKRAFS di berbagai daerah dapat semakin memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus menjadi jembatan bagi pelaku usaha dan pekerja kreatif untuk naik kelas.

Khususnya di Sulawesi Tengah, potensi produk kreatif yang berbasis seni, budaya, kuliner, kerajinan, serta kreativitas anak muda dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

 

Dengan penguatan literasi, akses pembiayaan, perlindungan kekayaan intelektual, pemasaran digital, serta jejaring nasional dan internasional, ekonomi kreatif diharapkan tidak hanya menjadi ruang berekspresi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Liputan : Rudi. Ch

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA