MENU Senin, 19 Okt 2026

Petani Durian Sindue Didorong Terapkan Good Handling Practice untuk Tingkatkan Mutu dan Daya Saing

waktu baca 3 menit
Rabu, 7 Okt 2026 14:22 607 Admin 1

DONGGALA PSNews.site – Pemerintah mendorong petani durian di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menerapkan Good Handling Practice (GHP) atau praktik penanganan pascapanen yang baik guna menjaga mutu, mengurangi susut hasil, serta meningkatkan daya saing produk hingga ke pasar global.

Materi tersebut disampaikan Toni Hasbi dalam kegiatan sekolah lapang GHP durian yang berlangsung selama tiga hari, 7–9 Oktober 2026, di lahan milik Wawan, Desa Ape Maliko, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala.

Kegiatan ini merupakan program Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), dengan penerima manfaat para petani durian di Kabupaten Donggala.

Toni Hasbi yang bertindak sebagai fasilitator menjelaskan, penerapan GHP menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas durian sejak dari kebun hingga sampai ke tangan konsumen.

Menurutnya, Sulawesi Tengah memiliki karakter durian yang khas. Kondisi geografis daerah dinilai turut mendukung pengembangan komoditas durian dengan karakter dan cita rasa yang beragam.

“Bagaimana kita menangani pascapanen tanaman durian, itu yang disebut good handling. Harapannya, Sulawesi Tengah tidak lagi terkendala dari sisi kualitas sehingga produk mampu memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” jelas Toni dalam pemaparannya.

Ia menekankan, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman dan produksi. Penanganan setelah panen juga menjadi faktor penting yang menentukan kualitas dan harga jual.

Petani, kata dia, perlu mulai membiasakan diri melakukan pencatatan dan menerapkan standar penanganan pascapanen secara konsisten, terlebih bagi lahan yang telah melalui proses registrasi.

“Pemerintah mendorong ini untuk kepentingan petani sendiri. Kita sudah menanam dan menunggu bertahun-tahun, jangan sampai ketika panen penanganannya tidak baik sehingga kita tidak mendapatkan harga maksimal,” ujarnya.

Toni juga mengingatkan bahwa penerapan standar pascapanen menjadi salah satu bagian penting apabila produk pertanian Sulawesi Tengah ingin menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Dalam materi GHP durian, peserta diberikan pemahaman mengenai sejumlah tahapan penanganan pascapanen, mulai dari penyortiran, pengkelasan, sanitasi, pengemasan hingga penyimpanan dan pengangkutan.

Pada tahap penyortiran, buah yang busuk, cacat fisik atau mengalami kerusakan akibat benturan harus dipisahkan. Selanjutnya, durian dikelompokkan berdasarkan ukuran, tingkat kematangan dan berat agar kualitas produk lebih seragam.

Aspek sanitasi juga menjadi perhatian. Petani diharapkan memastikan buah terbebas dari kotoran, sisa tanah maupun getah yang menempel, sekaligus menjaga kebersihan area kerja dan peralatan yang digunakan.

Sementara dalam pengemasan, durian harus ditempatkan dalam wadah yang kokoh dan dilengkapi bahan pelindung agar buah tidak mudah bergesekan maupun mengalami benturan selama proses distribusi.

Untuk penyimpanan dan pengangkutan, kondisi tempat juga harus diperhatikan. Ruang penyimpanan diharapkan sejuk dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Sistem pengangkutan juga perlu disesuaikan untuk menjaga kondisi buah hingga sampai ke konsumen.

Toni menilai penerapan GHP secara konsisten dapat membantu petani mempertahankan kesegaran dan mutu buah, memperpanjang masa simpan, sekaligus menekan kerugian akibat kerusakan pascapanen.

“Prinsip dasarnya bagaimana kita bisa mendapatkan nilai tertinggi dari sebuah produk. Jangan sampai petani sudah mengeluarkan modal dan menunggu bertahun-tahun, tetapi hasil akhirnya tidak mendapatkan harga yang maksimal karena penanganan pascapanen yang kurang baik,” katanya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Donggala Anhar, S.Hut., Kepala Bidang Hortikultura Arif, SP., Pj. Camat Sindue Saiful, SP., serta Farma, SP., M.Si., dari Bidang Hortikultura Dinas TPH Provinsi Sulawesi Tengah.

Sejumlah ketua kelompok tani dari beberapa desa di Kecamatan Sindue juga mengikuti kegiatan tersebut. Lahan praktik berada di kebun milik Wawan yang dikenal sebagai Kebun Ragikabuspam, sekaligus menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi para peserta.

Melalui sekolah lapang ini, petani diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi durian, tetapi juga mampu menjaga kualitas sejak panen hingga pemasaran sehingga komoditas durian Sulawesi Tengah semakin memiliki nilai tambah dan daya saing.

Liputan ,Tzr

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA